Minggu, 13 Maret 2016

Poltik Warisan Ditolak Rakyat

                   Oleh : Rahmadan

Upaya petahana membangun dinasti di daerah-daerah, gagal. Poltik warisan tidak mendapat restu alias ditolak rakyat.
Masyarakat kekinian justru simpati terhadap calon pemimpin dengan tampilan sederhana. Beranjak dari bawah, bukan garis keturunan penguasa-penguasa yang tengah menjabat. Gaya elitis mungkin bukan zamannya.
Mereka dengan badan tegap, gaya berbicara direkayasa sehingga menimbulkan kesan kewibawaan sang pemimpin. Kini sudah rak relevan dengan alam demokrasi.
Jokowi pendatang baru di kazanah perpolitikan nasional berhasil menumbangkan duet Prabowo-Hatta Radjasa pada Pilpres lalu. Padahal sang ayah dan ibu bukan berasal dari golongan politisi tersohor. Bukan pula jendral TNI atau tokoh pahlawan Indonesia. Popularitas Jokowi-sapaan akrab Joko Widodo melambung saat dia menyambangi pasar-pasar tradisional, pemukiman kumuh dan lokasi penampungan korban bencana alam. Ditambah lagi, pemberitaan media yang nyaris tak pernah luput dari semua aktifitas Jokowi.
Dia begitu menarik perhatian jutaan masyarakat Indonesia. Hadir ditengah riuknya ekonomi, politik dan hukum di negri ini.
Gaya blusukan yang biasa dilakukan Jokowi lebih mampan untuk menarik empati publik ketimbang berorasi dihadapan jutaan warga Indonesia. Karena sikap kesederhanaanya dia mampu mengalahkan popularitas Penyanyi Dangdut Roma Irama yang juga berencana berebut kursi Presiden. Padahal Roma Irama jauh sebelum Jokowi hadir ia lebih terkenal. Entah itu dikalangan pemuda, remaja, anak-anak hingga orang tua dan nenek-nenek sekalipun.
Tapi hanya sekadar Popularitas tidak lah cukup. Bila jaminan keterpilihan dinilai dari segi popularitas, saya rasa Roma Irama tidak kalah populer dengan Jokowi. Bahkan Roma lebih dulu dikenal publik. Mulai dari lagu ciptaanya, ditambah dengan suara merdu dan gaya bernyanyi yang khas.
Di Sultra, beberapa daerah dengan kandidat yang mengandalkan popularitas sang petahana juga tumbang. Di Konsel misalnya. Ada pria bernama Asnawi Sukur, kakak kandung Gubernur Sultra, H.Nur Alam harus dipaksa menyerah dengan duet Surunuddin-Arsalim. Bahkan persolehan suara cukup jauh. Padahal dari lini birokrasi, tidak dapat dipungkiri mereka pemegang kendali. Masalah finansial mereka lebih mapan. Apalagi sang adik seorang guberbur tentu mempunyai pengaruh besar.
Tapi masyarakat menolak keras politik warisan. "Habis adiknya, kakaknya lagi. Ambil mi semua". Ini yang bersebrangan dengan keinginan mayoritas masyarakat.
Ada juga di Koltim. Wahyu Ade Prtama putra mantan Bupati Konsel, H.Imran sekaligus menantu Bupati Kolaka, Ahmad Safei. Secara strategi statistik mereka matang. Bahkan tuntas sekalipun karena didukung dua orang yang terbukti menduduki kursi bupati. Terlebih popularitas. Rekam jejak pengalaman poltik Yuyu-sapaan akrab Wahyu Ade Pratama tidak diragukan.
Dia berhasil menduduki kursi Wakil Ketua DPRD Sultra. Tapi, politik warisan tidak berlaku kekinian. "Saya sudah dukung orangtuamu. Jadi anaknya jangan didukung. Berikan kesempatan kepada yang lain" kutipan kalimat itu nampaknya sudah mengendap didalam benak masyarakat. Poltik warisan ditolak masyarakat.
Pilwali Kota Kendari 2017 mendatang sejumlah figur sudah menebar alat peraga kampanye pada setiap sudut kota. Apalagi di jalan-jalan protokol. Wajah-wajah mereka cukup populer. Berbagai jargon yang mereka tampilkan.
Tapi ada yang menarik diantara sejumlah figur yang mulai mencuat. Putra Walikota Kendari Asrun, Adriatma Putra juga bakal bertarung memperebutkan kursi 01-Kendari. Secara populer tentu tidak diragukan lagi. Kalau benar-benar ADP sapaan karib Adriatma Putra maka dia punya peluang cukup besar. Sang ayah tentunya berjuang keras, mengerahkan mesin birokrasi. Memerintahkan untuk mendulang suara sebanyak mungkin. Apalagi Asrun juga sudah melempar wacana untuk menjadi calon gubernur. Tentunya, kemenangan sang anak akan berpengaruh terhadap Pilgub mendatang. Apakah, poltik warisan juga akanlditolak masyarakat Kendari sehingga akan menjadi penghalang ADP untuk meningkatkan karir politiknya.
Selain ADP, ada juga Derik sapaan akrab Muhammad Zayat Kaimuddin anak dari mantan Gubernur Sultra, Laode Kaimuddin. Bila membawa popularitas sang ayah, Derik tidak kalah populer dari ADP. Ditambah lagi, kini ia didelegasikan menjadi Pj Bupati Muna.
Kedua kandidat ini begitu populer di kalangan masyarakat. Berbeda dengan ADP, ayah Derik mencatat sejarah dengan gagasan pembangunan jalan paling cemerlang. Walaupun Derik dianggap sebagai reinkarnasi, Kaimuddin dan dirindukan masyarakat. Tapi itu, tidak menjadi jaminan. Karena masyarakat menolak keras politik warisan. Apakah pencalonan Derik masuk dalan kategori politik warisan ataukah tidak, entahlah. Karena sang ayah telah pergi untuk selama-lamanya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Hasrul Design | Majalah Active | Hasrul - Premium Themes | Best Themes