![]() |
| Salah Satu Wartawan, yang sedang Mengabadikan dirinya di Batu Lukis |
Liputan Khusus. Jurnalis dot com
Di desa Ulumowewe Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) terdapat sebuah bongkahan batu besar yang diberi nama Batu Lukis. Batu tersebut masih dikeramatkan oleh sebagian masyarakat mowewe. Mereka meyakini bahwa pada batu tersebut terdapat jejak leluhurnya. Jika disiram air dengan ritual tertentu, dipercaya bisa mendatangkan hujan. Mitos itu masih bertahan hingga saat ini dan sebagian warga masih sering melakukan ritual di lokasi tersebut.
Cerita rakyat tentang jejak tujuh wali ada hampir di setiap daerah. Mulai dari bekas pijakan kaki hingga tempat salat mereka. Tempat -tempat tersebut sering dikeramatkan oleh sebagian masyarakat dan melakukan ritual tertentu. Ada yang menjadikannya lokasi mandi - mandi, tempat makan - makan (rekreasi disertai ritual tertentu), dan berbagai prosesi budaya tua. Namun, kepercayaan - kepercayaan seperti itu mulai terkikis dan nyaris punah. Kemajuan pengetahuan masyarakat semakin berkembang.
Berbagai tradisi lisan yang ada di Bumi Anoa. Tak jarang pembuktiannya sulit dilakukan secara ilmiah. Ceritanya pun cenderung bertabrakan dengan akal sehat. Namun tradisi lisan itu masih menjadi kepercayaan oleh masyarakat setempat. Salah satunya cerita rakyat di Desa Ulumowewe Kecamatan Mowewe Koltim. Ada sebuah batu yang diberi nama Batu Lukis diyakini menjadi tempat salat seorang ahli agama zaman dulu. Lekukan yang ada pada batu tersebut dipercaya sebagai jejak sang wali. Kepercayaan tersebut masih bertahan pada sebagian masyarakat di desa tersebut. Bahkan, mereka masih sering menggelar ritual tertentu di lokasi itu dengan membawa sesajen atau memotong hewan. Biasanya ritual itu dilakukan usai panen raya atau ketika daerah itu dilanda puso (gagal panen).
Untuk menuju ke lokasi Batu Lukis, membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam dari ibu kota Koltim. Anda akan melalui medan yang cukup ekstrim. Melintas jalan rusak sepanjang kurang lebih satu kilometer, menyeberangi sebuah sungai dengan sarana jembatan darurat berkontruksi kayu. Bila tidak hati- hati, cukup rawan jatuh ke sungai. setelah itu, berjalan kaki melintas kawasan perkebunan dan hutan negara. Ada juga jalur alternatif agar bisa sampai disana, tapi harus menyusuri sungai.
Tak ada petunjuk jalan untuk menentukan batu tersebut. Olehnya itu, harus ditemani warga setempat sebagai petunjuk arah. Apalagi sulit membedakan antara batu biasa dan Batu Lukis. Tidak ada atribut yang membedakan Batu Lukis itu dengan batu lain. Semua nyaris sama secara kasat mata. Batu Lukis terletak di daerah aliran sungai dan dikelilingi banyak bebatuan. Tapi bila diperhatikan secara seksama, Batu Lukis mempunyai ciri khas. Ada beberapa lubang diatas batu tersebut. Itulah yang diyakini oleh warga setempat sebagai bekas leluhurnya ketika sedang melakukan salat. Ada pula bekas tombak dan jejak kaki anoa di batu itu lebih dari satu meter, lebarnya diibaratkan dengan tiga pelukan lingkaran tangan orang dewasa.
"Bekas tersebut ada karena waktu itu dunia belum keras, termasuk batu. Jadi ketika nenek kami bernama Tameluru melaksanakan salat maka meninggalkan jejak," ungkap Sawal, Ketua Adat Desa Ulumowewe Kecamatan Mowewe. Pemahaman tersebut yang masih bertahan. Meskipun perkembangan ilmu pengetahuan telah mengungkapkan bahwa pembentukan bumi dan alam semesta terjadi pada jutaan miliar tahun lalu. Sementara kehidupan manusia muncul sekitar 9 ribu tahun lalu. Meski demikian, cerita rakyat itu masih tetap bertahan.
Leluhur (nenek) mereka, kata Sawal, meninggalkan bekas pijakan lutut yang berbentuk saat sujud ketika leluhurnya salat di Batu Lukis. Batu tersebut masih dianggap sebagai tempat keramat dan sakral. Bahkan mereka meyakini, saat kemarau tiba dan keturunan Tameluru menyiram air diatas Batu Lukis, maka hujan pun akan turun. "Dari cerita orang tua, dulu pernah musim kemarau panjang melanda Mowewe. Tapi karena keturunan Tameluru menyirami batu tersebut maka hujan pun turun, "ungkap Sawal.
Hingga saat ini, warga Desa Ulumowewe masih menganggap sakral batu itu. Bahkan setiap kali musim panen padi, warga sekitar selalu melakukan acara di sana. Mulai penyembelihan hewan hingga melakukan ritual adat ( baca - baca, dalam istilah daerah warga Mowewe). Selain warga setempat, kata dia pemerintah juga biasanya melakukan kegiatan di sana ketika panen raya.
Batu Lukis banyak dipadati pengunjung saat hari raya. Mereka mandi - mandi di sungai. Di lokasi itu juga terdapat air terjun yang indah. Tapi jaraknya dengan lokasi Batu Lukis sangat jauh. Saking sakralnya, warga pun dilarang mengambil sesuatu diatas batu lukis tersebut. Bila melanggar, dipercaya akan didatangi penjaganya.
Kepala Desa Ulumowewe, Suhernawati tidak mengetahui cerita tradisi lisan tentang Batu Lukis. Namun ia membenarkan bila warganya selalu melakukan kegiatan disana, utamanya saat musim panen. Biasanya warga menyembelih hewan.
11.22.00
active.com




0 komentar:
Posting Komentar