Kamis, 16 Juni 2016

Misteri Kematian Jalil

Catatan; Ramadhan

Cerita tentang kematian Jalil masih menyimpan tanya. Misteri tewasnya pegawai honorer BNN Sultra pada awal puasa mengundang simpati sejumlah masyarakat dan mahasiswa.
Hari ini (Senin, red) kelompok pembela Jalil membentuk barisan, melakukan unjuk rasa demi mencari keadilan. Bertandang ke Kemenkumham, Polresta Kendari dan Polda Sultra. Harapanya oknum polisi yang diduga menganiaya hingga menghilangkan nyawa pria berusia 25 tahun itu diberi sanksi setimpal. 

Polresta Kendari tetap membela diri. Alibinya, Jalil adalah aktor intelektual pelaku begal yang selama ini beroperasi di Kendari. Saat dibekuk di kediamannya di bilangan Abeli, Jalil melakukan perlawanan sehingga polisi melumpuhkan terduga "Bos Begal" dengan meletuskan senapan ke bagian betis. Akibatnya Jalil mengalami pendarahan dan nyawanya tidak dapat terselamatkan.
Tapi, perlawanan seperti apa yang dilakukan Jalil hingga kini belum mampu dijelaskan pihak kepolisian.

Apakah Jalil yang hanya seorang diri mampu melawan puluhan personel kepolisian yang melakukan operasi penangkapan. Atau mungkin ketika itu, polisi memaksa Jalil mengaku sebagai aktor intelektual pelaku begal yang selama ini beroperasi di Kendari. Dan, Jalil tidak pernah membenarkan dugaan polisi itu. Dengan begitu, polisi naik pitam sehingga menganiaya Jalil yang membuat nafasnya terhenti.

Hampir seminggu Jalil tewas. Namun polisi belum mengetahui secara pasti penyebab kematian Jalil. Alasannya cukup klasik, masih melakukan penyelidikan. Orang-orang yang dianggap punya peran dan pengetahuan saat Jalil ditangkap masih dimintai keterangan. Status mereka saksi. Belum jadi tersangka.

Publik pun ragu bila akan ditetapkan tersangka pembunuh Jalil. Sebab yang melakukan penyelidikan polisi dan terperiksa polisi pula. Apakah etis bila sesama korps bhayangkara saling menghukum.
Geli rasanya bila kasus ini benar-benar diusut secara tuntas. Sekalipun Kapolda Sultra, Brigjen Pol Agung Sabar Santoso berjanji akan mengusut kasus kematian Jalil. Apakah janji itu hanya obat penenang. Atau hanya sebagai bualan seorang jendral untuk melindungi anggotanya dari amukkan masyarakat.

Bila pengusutan benar-benar dilakukan maka akan menjadi mimpi buruk bagi kepolisian yang bertugas menangkap pelaku kriminal. Karena selama ini oknum polisi ketika menangkap pelaku kriminal selalu melakukan penganiayaan dengan dalih pelaku berusaha melarikan diri dan melawan.
Atau mungkin, ilmu penyidikan polisi perlu ditingkatkan. Sekolahkan lagi mereka. Jangan menggunakan kekerasan untuk mendapatkan kesaksian. Itu mungkin lebih elegan.

Cara-cara kekerasan tidak tepat untuk memperoleh kesaksian tersangka pelaku kriminal. Harus ada revolusi mental di tubuh Polri. Jangan sampai akan ada "Jalil-Jalil" berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Hasrul Design | Majalah Active | Hasrul - Premium Themes | Best Themes